« dari boyaz untuk para perempuan | Main | sajak pendosa »

KENAPA ???

  1. Kenapa waktu SD pertama kali belajar baca selalu nyebut-nyebut nama “Budi”? Misalkan, “Ini ibu Budi” kenapa ngga Ucup, Juned, Dono, Kasino, Indro, atau siapaaa… gitu…?

  2. Kenapa sekolah harus pake seragam?

  3. Kenapa seragam SD warnanya putih-merah, SMP putih-biru, SMA putih-abu? Kenapa ngga putih-ijo, biru-pink, item-merah…?

  4. Kenapa perempuan harus pake rok?

  5. Kenapa banyak yang bilang anak laki ngga boleh nangis?

  6. kenapa kalo lagi olah raga itungannya Cuma ampe 8?

  7. kenapa IP atau IPK standar tertingginya 4?

  8. kenapa model Runway harus tinggi dan kurus? emang orang pendek dan gemuk ga boleh pake baju bagus?

  9. kenapa ada orang apartheid?

  10. kenapa 1+1=2?

  11. Kenapa Soeharto sampai saat ini ga mengalami proses hukum?

  12. Kenapa gw ada di dunia?

  13. kenapa bilangan cacah selalu dimulai dari satu?

  14. Kenapa pembunuhnya Munir sampe sekarang belum diketahui?

  15. Kenapa dari kecil kita selalu dididik buat ngasih dan nerima pake tangan kanan? Emang kenpa dengan tangan kiri? Siapa dan apa sih yang menyebabkan budaya “tangan kiri itu jelek”?

  16. kenapa model iklan Hand Body kulitnya selalu putih?

  17. Knapa banyak orang yang beranggapan kalau kulit putih itu cantik?

  18. Kenapa Model iklan sampo selalu berambut lurus?

  19. Kenapa hari Jumat sering diidentikan sebagai hari yang pendek?

  20. Kenapa ada istilah “malem mingguan”?

  21. Kenapa jarum jam berputar dari kiri ke kanan?

  22. Kenapa Tuhan menciptakan manusia?

  23. kenapa gw ada di diri gw yang sekarang ya? Gimana jadinya kalo gw ngeliat dunia ini dari diri orang lain?

  24. kenapa ada orang jahat dan orang baik?

  25. kenapa warna item sering dipake ke pemakaman?

  26. Kenapa perempuan harus bisa masak?

  27. kenapa Cuma Azan Magrib doank yang disiarin di TV?

  28. kenapa Daging babi haram?

  29. kenapa standar pengetikan harus pake Times New Roman ?

  30. kenapa cewek lebih mengoptimalkan perasaan dibanding logika?

  31. kenapa ada yang benar dan ada yang salah?

  32. kenapa orang mengangguk waktu bilang “iya” dan menggeleng waktu bilang “tidak”?

  33. kenapakita tidur di malam hari dan bangun di pagi hari?

  34. kenapa kita bisa mimpi?

  35. kenapa ada orang jahat dan orang baik?

  36. kenapa ada istilah “ibu pertiwi” tapi ga ada istilah “bapak pertiwi”?

  37. kenapa ada pemilihan putri

    Indonesia

    , tapi ga ada pemilihan putra

    Indonesia

    ?

                                                                                                                                                                      -boyaz-

                            

Comments

Kira-kira kenapa ya???

yaz...
ayu kadang suka khawatir...
jangan jangan autis mu bertambah kuat ya???
ayu mau kasi jawaban(versi ayu)atas 1 pertanyaanmu...yang mungkin kamu masi bertanya padahal kamu tau jawabannya

**kenapa daging babi haram?
daging babi bukannya haram(menurutku)tapi banyak kejelekannya dibanding kebaikannya kalo kita makan atau melihara tu babi...
coba...
mana ada anjing ngepet?
adanya babi ngepet...
yaaa...berarti dibanding binatang yang lain babi memiliki keunggulan panggilan tersendiri(padahal kasian banget ya,ko babi yang jadi korban ga panda aja)...
juga..
kalo kita makan tu daging babi...asin ma gurihnya ga ketulungan...menurut teori ayu siy...gurih dari vetsin aja bikin bodo apalagi gurih yang ga ketulungan dan garam yang berlebihan akan menghambat penyerapan zat di tubuh...
serta...
babi mengandung cacing yang hidup di tubuhnya lebih banyak daripada binatang lain dan parahnya tu cacing walaupun daging babinya dimasak masi hidup...(ayu siy ga mau makan cacing)

iyah..itulah sepenggal hipotesa dari nini ayu yang memang tidak bermanfaat tapi diharapkan mengurangi beban "kenapa"mu itu...

chao!

He.. dari 37 "Kenapa?" lo, ada satu yang kayaknya gw juga punya pemikiran yang sama. Ini dia ceritanya :

"KANAN"
BAYANGKAN jika dunia kita tiba-tiba berubah. Semua serba kanan. Hanya ada --apa yang kita kenal selama ini sebagai-- kanan. Tangan, dua-duanya kanan, dan terletak di sebelah kanan. Mirip wayang kulit. Mata hanya di kanan. Lubang hidung juga hanya yang kanan. Kaki, susu, telinga, susunan gigi, semua hanya di kanan. Begitu juga paru-paru dan serambi jantung. Gerak berpaling pun hanya bisa ke arah kanan. Bagaimana pula caranya menyelesaikan salat setelah tahiyatulakhir?
Begitu pula susunan urat nadi manusia dan segala mahluk yang berdimensi sama. Semua hanya punya "sebelah" kanan. Burung hanya bersayap kanan. Kuda, kerbau, babi, kodok, unta, kecoak, trenggiling, gajah, nyamuk, dan laba-laba, hanya berkaki kanan. Kucing dan anjing, juga jerapah hanya berkaki, bermata, berkuping, berlubanghidung dan bergigi kanan. Dunia fauna pasti kacau balau.
Mari ke jalan raya. Betapa kacau pula. Orang hanya boleh melaju di sebelah kanan. Semua persimpangan hanya bisa dimasuki dengan cara belok kanan. Mobil hanya diperbolehkan menggunakan roda-roda di sebelah kanan. Stang kemudi sepeda motor hanya satu, yang kanan, begitu pula step tempat kaki kita berpijak. Hanya kanan. Kereta api hanya punya satu jalur rel, kanan. Begitu pula deretan roda-roda besinya, cuma kanan. Apa jadinya pesawat terbang? Bagaimana jadinya bentuk sandal dan sepatu?
Dunia intelektual pun akan kacau balau, sebab huruf-huruf hanya akan tersusun dari atas ke bawah. Ditulis dengan goresan dari atas ke bawah. Disusun sebagai kata, dan kalimat, juga dari atas ke bawah. Majalah dan koran akan lain jadinya. Buku, apalagi. Mungkin panjangnya bemil-mil, dan bentuknya tak akan seperti sekarang, sebab lembaran kertas tak mengenal sisi lain selain kanan.
Lagi pula, tentu atas dan bawah akan kehilangan makna. Sebab tengah pun tak akan ada tanpa lawan kanan. Tak ada tengah, berarti takkan ada atas dan bawah. Tak akan ada mata angin. Dunia akan berhenti berputar dan tak bisa bertawaf mengelilingi matahari yang ada di tengah-tengah. Kan tak ada tengah. Tak ada matahari. Tak ada pusat kehidupan.
Artinya, tentu takkan ada manusia. Padahal manusialah yang manamai temuannya atas kesadaran terhadap dimensi ruang dengan berbagai sebutan: Tengah. Atas, bawah. Depan, belakang. Tinggi, rendah. Besar, kecil. Gelap, terang. Kanan, bukan kanan, dan seterusnya. Dimensi inilah yang menyempurnakan bentuk semesta. Bawah takkan pernah tercipta tanpa atas. Begitu sebaliknya, depan takkan pernah ada tanpa belakang. Putih pun takkan berwarna tanpa hitam. Karena gelap, kita menikmati makna terang. Dan kanan pun tak akan pernah ada artinya tanpa 'bukan kanan'.
"Pusing, ah. Kamu membicarakan hal yang sangat tak masuk akal," kata seorang teman yang kidal. Memang tak masuk akal, sebab tak akan ada akal jika gumpalan otak pun tak mengenal belahan selain kanan dan bertumpuk di satu sisi, kanan. Sisi yang sudah pasti tak akan pula ada, sebab untuk menentukan kanan perlu sisi lain selain kanan.
Pusing? Pasti lah! Bagamaimana harus menulis surat dan menandatangani cek, sebab selama ini ia hanya bisa menulis dengan tangan yang bukan kanan dan kekuatan tubuhnya bertumpu di sebelah selain kanan itu.
Teman yang kidal itu, sudah tersiksa sejak kecil, sebab pusat kekuatan dan refleknya berada di sebelah bukan kanan, sementara ia harus selalu mengambil roti dengan tangan kanan. Ia heran, bukankah kanan takkan pernah ada dan tak bermakna tanpa bukan kanan? Bukankah kanan dan bukan kanan sama-sama mulia sebab demikianlah Sang Maha Pencipta menciptakannya agar satu sama lain saling melengkapi?
Memang ada kitab suci yang harus dibaca dari kanan, itu pun terjadi karena ada ruang di sebelah bukan kanan. Buku-buku ditulis dan harus dibaca dari arah bukan kanan ke kanan, sebab orentasi aksis mata --secara potikal-- manusia pada umumnya bergerak dari arah bukan kanan ke kanan. Jadi mengapa hal-hal yang bukan kanan harus dimusuhi?
Aku juga pusing. Tapi bangsa kita pernah mengalami masa-masa di mana selain kanan itu haram dan harus dimusnahkan. Sejak awal, kultur kita pun menganggap kanan lebih mulia daripada selain kanan. Sejak kecil, anak-anak diajarkan untuk selalu mempergunakan tangan kanan jika hendak menerima dan memberi sesuatu. Padahal semesta kehidupan ini tak cuma terdiri atas kanan.
Di negara kita, lalu lintas bergerak di jalur bukan kanan. Belok kanan harus menunggu isyarat lampu lalu lintas atau panduan petugas, tapi belok ke bukan kanan relatif lebih bebas. Mobil berhenti di sisi sebelah bukan kanan. Melaju di jalan tol pun, harus selalu menggunakan jalur selain kanan, sebab jalur kanan hanya untuk mendahului.
Keselamatan di jalan raya, ternyata berada di jalur bukan kanan, tapi sejak kecil kita ditanamkan bahwa tangan selain kanan itu menjijikkan, sebab sekadar untuk cebok. Bayangkan saja betapa su¬litnya mengetik dan main musik hanya dengan tangan kanan. Bukankah sembahyang pun mencapai kesempurnaan jika kanan dan bukan kanan memperoleh peran dan tugas yang sama?
Dengan begitu, mengingkari dan menolak hal-hal yang bukan kanan bisa lah diartikan dengan menolak kodrat, sebab keseimbangan antara kanan dan bukan kanan itulah yang menyempurnakan kemuliaan semua mahluk penghuni semesta. Boleh jadi, itulah yang membuat sejumlah orang marah ketika mendengar ada kelompok yang demikian anti pada hal-hal yang bukan kanan. Mereka merazia, melakukan sweeping, dan membakari buku-buku yang dianggap berisi semangat "bukan kanan".
Suatu hari saya cemas bukan main. Takut razia itu dilakukan dari rumah ke rumah, sebab buku-buku bukan kanan di rumah kami sama banyaknya dengan buku-buku kanan dan tengah. Para pengelola toko buku sibuk mendata ulang buku-bukunya, lalu segera menggudangkan buku-buku yang diperkirakan bersemangat bukan kanan. Reaksi keras bermunculan. Intinya, memusnahkan buku sama dengan memberangus peradaban sebab buku adalah peletak dasar dasar peradaban.
Untunglah, 20 Mei 2001 --tanggal yang disebut-sebut sebagai gerakan massal serentak secara nasional sweeping dan pemusnahan buku-buku bukan kanan-- berlalu dengan damai. Tak ada razia, tak ada pembakaran. Tampaknya orang-orang yang 'antibukankanan' itu sadar bahwa cara-cara anarkis yang mereka lakukan, sebenarnya adalah cara-cara yang biasa digunakan oleh mereka yang menganut paham bukan kanan.
Toh kekhawatiran sudah sempat menjalar. Tapi saya tidak termasuk yang khawatir jika curah kali ini sama sekali tak menyebut sisi yang "bukan kanan" itu sebagaimana mestinya. Saya cuma ingin menunjukkan, betapa berartinnya 'bukan kanan' itu. Betapa tak lengkapanya hidup tanpa bukan kanan.
Pembaca tulisan ini pun pasti terganggu karena saya begitu tergantung pada kata kanan, dan memaksakan 79 kata kanan pada tulisan ini untuk menghindari lawan kata kanan.
Hidup bukan kanan!

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .


Powered by Friendster Blogs