saya ga tau dan bingung
Laras Sukmaningtyas, Bandung
Sejak kecil nggak pernah suka sama cerita putri-putrian, dari dulu saya nggak pernah percaya sama yang namanya ibu peri. Yang ngajarin kita untuk berpikir instant. Cukup dengan nangis…lalu… tring…!!! Semua keinginan bakal terkabul. Juga nggak suka sama cerita-cerita yang mengakhiri kisah sedih dengan pernikahan plus ada tulisan “happy ending” di belakangnya. Waktu kecil saya sering bertanya “emang kalo putri sama pangeran nikah pasti bakal bahagia ya?” sejak itu ayah saya memutuskan berhenti membeli buku cerita sejenis itu. Lalu mulai membelikan buku-buku seri tokoh dunia sebagai hadiah masuk TK. Di umur lima Newton Lincoln Edison
Dulu saya kira semua anak sama minat bacanya seperti saya. Sampai guru TK ngomelin saya karena selalu pengen nimbrung di pelajaran mengeja. Masuk SD Pertengahan SD lima SD
Namun waktu kelas 1smp otak saya terkena virus Harry Potter. Bahkan sampai sekarang pun virus itu masih menjangkiti saya. Biarpun begitu kecintaan saya terhadap buku-buku Pram tidak akan pernah pudar (alah…apaan sih bahasanya??!!)
Kesenangan saya akan dunia tulis menulis berawal sejak kelas dua SD. Standar sih…buku diary… lalu mengembangkan khayalan saya tentang seorang anak cewek yang terjebak di satu dimensi lain. Lalu doyan nulis puisi, dan waktu SMP hobi Menuhin mading dengan tulisan-tulisan saya. Kegiatan menulis saya sempat vakum waktu awal SMA, ketika saya lagi senang-senangnya menjadi hedonist. Di kelas 3 saya tobat ( kan lima
Saya adalah seorang pengkhayal. Waktu kecil saya suka mengkhayal jadi bajak laut. Dan saya selalu memerankan tokoh dari buku yang saya baca. Misalkan saya membaca bukunya Marie Curie atau Anne Frank. Lalu saya akan berpura-pura jadi Anne Frank. Hal itu membuat saya senang, karena dalam dunia khayal saya, saya bebas jadi apa saja. Dan saya selalu jadi pemenang. That’s the point…
Dilahirkan ditengah keluarga yang sangat demokratis dengan satu kakak, dan satu adik, yang dua-duanya cowok, dan doyan bikin “rusuh” seorang ibu yang hobinya nyanyi dan main games, dan ayah yang selalu jadi kontributor buku serta teman diskusi membuat saya nggak pernah kesepian. Tapi sebenarnya saya suka sendirian. Dan keluarga saya mengerti itu.
Saya masih belum punya cita-cita yang pasti (19 tahun dan belum punya cita-cita?!). dulu saya pengen jadi psikolog, tapi kadar kepekaan saya yang kurang ma’nyus membuat saya mengurungkan niat itu. Tapi cita-cita saya sementara (masih ada kemungkinan untuk berubah) ini pengen dapet beasiswa S2 dan mempelajari filsafat. Entah kenapa klaim sebuah kebenaran selalu jadi bahan pertimbangan, dan pertanyaan saya.
Saya… saya… saya… banyak banget kata “saya”. Padahal saya bukan siapa-siapa. Saya Cuma seorang perempuan yang doyan baca, doyan mikir, doyan nanya, saya hanya seorang anak yang memimpikan neverland…

Comments